Friday, 08 Dec 2023 - 09:24 Wita

KECACATAN BERPIKIR KETUA DKC MAROS

Diposting oleh: Admin
Share

Tanggapan atas tulisan “Dramaturgi Dua Sisi DKD Sulsel”

“Simbol Kecacatan Berfikir pada Tulisan “Dramaturgi Dua Sisi DKD Sulsel”

Kamis, 07 Desember 2023, Ketua DKC Maros – Muh Asrullah Rahim menulis sebuah opini yang dipublish pada website pramukamaros.co.id dengan judul “Dramaturgi Dua Sisi DKD Sulsel” yang berisi tanggapan mengenai rilis kajian DKD Sulsel terkait Musppanitra Nasional tahun 2023.

Tulisan dari 01 Penegak & Pandega di Kabupaten Maros ini mengandung banyak cacat berpikir dan opini prematur tanpa dasar yang jelas, sehingga DKD Sulawesi Selatan dengan tegas memberi tanggapan lewat tulisan ini untuk menetralisir implikasi dari opini ini yang telah meluas di publik.

  • Ketua DKC Maros kurang paham bahwasanya hubungan antar Dewan Kerja adalah mitra, bukan bersifat komando dari atas ke bawah, sehingga ruang-ruang diskusi bisa diciptakan dua arah. Opini yang lahir dari tulisan Kakak Muh Asrullah Rahim berdasarkan pikiran yang gagal paham bagaimana Dewan Kerja berdinamika.
  • Ketua DKC Maros gagal memahami substansi dari rilis kajian DKD Sulsel terkait Musppanitra Nasional Tahun 2023, yang terbit dikarenakan ruang-ruang diskusi tak lagi relevan diantaranya, maka jalur kritik lewat tulisan ditempuh. Beda halnya dengan kondisi DKD dan DKC Se-Sulawesi Selatan yang membuka ruang seluas-luasnya untuk berdiskusi, bahkan pertanyaan-pertanyaan sederahana akan tetap dijawab sampai yang bertanya merasa puas untuk jawabannya.
  • Ketua DKC Maros gagal memahami bahwasanya dalam PPDK 005 Tahun 2017 sebagai pedoman utama berDewan Kerja, sifat Dewan Kerja adalah kolektif, satu adalah semua dan semua adalah satu. Kakak Asrullah Rahim mungkin mengira jika hanya satu orang DKD Sulsel yang menjawab, maka bukan DKD Sulsel dianggapnya.
  • Pada Sidparda 2023, Agenda Sidang dilakukan secara Hybrid Daring dan Luring. Hal ini berdasarkan dinamika Kwartir Daerah Sulawesi Selatan dan DKD Sulsel, dimana pada pelaksanaan Rakerda Sulsel Tahun 2023 yang dilaksanakan secara mendadak, yang kemudian Sidparda Sulsel sebagai turunannya hanya diberikan waktu 1 hari secara luring di lokasi yang sama untuk Rakerda. DKD Sulsel tentu mempertimbangkan dinamika yang akan terjadi pada agenda-agenda sidang yang tentu membutuhkan waktu yang panjang agar optimal pada pelaksanaannya, sehingga diambil langkah Hybrid Daring dan Luring, agar pada agenda Sidang Pendahuluan dan Sidang Pleno I yang di dalamnya ada pandangan umum, Peserta Sidparda Sulsel tahun 2023 dapat menyampaikan aspirasinya tanpa dibatasi waktu, dan tentu pada pelaksanaannya Agenda berjalan tanpa ada pembatasan waktu.
  • Hasil Sidparda Sulsel tahun 2023 telah dirilis dan dipaparkan dalam Rakerda Sulsel Tahun 2023. Adapun yang gagal dipahami oleh Ketua DKC Maros adalah soft-file yang dikirim ke grup Whatsapp ”Ketua-Wakil Ketua dan DKD Se-Sulsel” sebagai rilis hasil Sidparda.
  • Ketua DKC Maros gagal memahami Gerakan Pramuka sebagai organisasi yang mempunyai mekanisme-mekanisme kerja formal. Bahasa “enggan menjalin komunikasi ke tingkat bawah” yang termaktub dalam opininya entah apa artinya, sedangkan pada setiap agenda yang dilaksanakan DKC Maros, DKD Sulsel hadir diantaranya, bahkan walau hanya agenda non-formal semisal ngopi.
  • Ketua DKC Maros gagal memahami substansi dari poin kritikan DKD Sulsel terkait DKN yang berfokus pada absennya sudut pandang kualitatif. Kakak Asrullah Rahim juga memberikan justifikasi dini dan mengaminkan sudut pandang kuantitatif sajalah yang akan mempertebal halaman pertanggungjawaban.
  • Ketua DKC Maros gagal memahami posisi Dewan Kerja sebagai badan kelengkapan Kwartir, dimana setiap Program Kerja yang berjalan merupakan Program Kerja Kwartir dimana Dewan Kerja sebagai pelaksana kegiatan yang berkenaan dengan Penegak dan Pandega. Tentu tertundanya pelaksanaan PWD Sulsel adalah keniscayaan yang kita semua sayangkan, dan yang menjadi isu utama adalah komunikasi yang tetap terbangun oleh DKD Sulsel dalam mengklarifikasi hal-hal yang berkaitan dengan penundaan tersebut, kami tidak bungkam.
  • Poin terakhir dari Opini Ketua DKC Maros adalah akumulasi cacat berpikir yang ia sampaikan, dikarenakan jika pada dasarnya ia membaca secara saksama rilis kajian DKD Sulsel terkait Musppanitra Nasional Tahun 2023, maka tak akan ada poin terakhir tersebut.

Tanggapan ini merupakan representasi keterbukaan DKD Sulsel dalam menanggapi isu yang ada, tentu budaya literasi adalah hal yang baik, namun harus diletakkan pada pondasi dan dasar yang jelas sehingga tak menjadi opini yang menyesatkan dan masuk pada Fallacy of Personal Incredulity. Kondisi DKD Sulsel yang terbuka untuk berkomunikasi juga menjadi alasan dimana tulisan tersebut merupakan opini yang kontraproduktif, karena haus akan tendensi dan tak sesuai pada ruangnya.

BACA JUGA